Hari-hari di Kampung Surya kini dipenuhi dengan aktivitas baru. Para penduduk dari berbagai suku bekerja sama membangun benteng pertahanan, merapikan tempat tinggal, dan menciptakan sistem yang lebih baik untuk mendukung kehidupan mereka. Lynx, yang kini menjadi pemimpin Kampung Surya, tidak pernah absen memeriksa keadaan dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Di balai pertemuan, Lynx duduk bersama Lala, Mochi, dan beberapa tetua suku. Mereka membahas seorang tahanan yang berhasil mereka tangkap, yaitu Kael, salah satu anak buah Kane yang selamat karena tidak ikut masuk kedalam gua. Kael mendapatkan tugas menjaga penduduk Sinto saat Kane dan yang lainnya memasuki gua bersama Leena untuk menemukan jasad Milo. Namun, saat kedatangan Lynx, dia langsung di lumpuhkan. Lala meminta Lynx menghancurkan alat komunikasinya agar tidak bisa memberitahukan informasi ke Kane mengenai kedatangan Lynx. Karena khawatir dengan Leena, Lynx meminta Mochi dan Lala mengurus Kael.

“Apa yang akan kita lakukan terhadap orang itu?” tanya Lynx, pandangannya tertuju pada Lala dan Mochi.

Lala menghela napas. “Dia adalah anak buah Kane, tetapi dia hanyalah anak buah. Dan sekarang Kane sudah mati. Menurutku, tidak ada gunanya menyimpan dendam terhadap dia.”

Mochi mengangguk setuju. “Aku rasa kita bisa memberinya pilihan. Tapi semua keputusan ada di tanganmu, Lynx.”

"Kita membutuhkan banyak kekuatan melawan Monrest. Jika dia mau membantu kita, akan sangat membantu." Kata Lynx memberikan pendapatnya.

Setelah berpikir sejenak, Lynx lalu memutuskan untuk berbicara langsung dengan Kael. Ia menuju ruang tahanan sederhana yang dibuat dari bambu dan beberapa tali kuat. Di sana, Kael duduk dengan tangan terikat di belakang, wajahnya terlihat lelah dan penuh penyesalan. Pakaiannya sudah di lepas sehingga hanya mengenakan pakaian dalam. Ini dilakukan untuk mencegahnya melakukan hal yang membahayakan karena mereka tidak mengetahui teknologi apa saja yang dimiliki pria tersebut.

Lynx berdiri di depan pintu. “Kael, aku punya pertanyaan untukmu. Apa kau masih berniat melawan kami, atau kau akan menyerah?”

Kael mengangkat wajahnya perlahan. "Aku bukan orang bodoh. Tidak ada gunanya aku melawan. Kane sudah mati, begitu juga semua rekan-rekanku. Aku tidak punya tujuan lain di sini kecuali mencoba bertahan hidup."

Lynx menatapnya tajam. “Kalau begitu, aku akan memberimu kesempatan. Jika kau mau bekerja sama dengan kami, melindungi kampung ini, dan terutama menjaga keselamatan Lala, aku akan mempertimbangkan membiarkanmu hidup.”

Kael terdiam sejenak sebelum menjawab, “Aku akan bekerja sama, asalkan aku punya satu harapan.”

“Apa itu?” tanya Lynx.

“Bantu aku kembali ke duniaku,” kata Kael dengan nada serius. “Aku tidak punya alasan untuk tinggal di sini, tapi aku bersedia melakukan apa saja demi keselamatan Lala. Karena aku tahu, hanya dia satu-satunya orang yang mungkin bisa membawaku pulang.”

Lynx mengangguk perlahan. “Kalau begitu, mulai sekarang, kau harus membuktikan bahwa kau bisa dipercaya. Jika tidak, aku tidak akan ragu untuk menghabisimu.”

Kael mengangguk patuh. "Aku mengerti. Dan aku tidak akan mengecewakan kalian."

Lynx memandang mata Kael sejenak lalu melepaskan ikatan tangan dan kakinya.

"Kamu semudah itu mempercayaiku? melepaskanku?" Kata Kael dengan nada merendahkan, karena anak muda di depannya ini terlalu mudah mempercayai kata-katanya.

"Aku melepaskanmu karena aku percaya, kamu tidak punya alasan lain untuk menyerang kami. Dan Lala satu-satunya kesempatanmu untuk kembali." Kata Lynx. sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada,"selain itu, kamu tidak akan punya kesempatan menang melawanku."

Kael tertawa lalu menyindir Lynx. "Melawanmu? Tentu saja aku tidak akan bisa menang melawanmu karena banyak orang di sekitarmu. Sebelumnya, kamu bisa mengalahkanku karena serangan mendadak dan aku tidak siap. Tapi jika terulang lagi, tentu kamu akan jatuh dalam sekali hajar. "

Kael lalu menghela napas,"Tapi sudahlah, aku sudah kalah dan tidak perlu membahas mengenai pertarungan kita lagi."

"Kael, majulah! aku ingin melihat kemampuanmu dan juga agar kamu mengetahui perbedaan kekuatan kita." Kata Lynx sambil tersenyum meremehkan.

"Kamu... Sudahlah, aku terlalu malas melayanimu. Ingat perjanjian kita." kata Kael membalikkan badan hendak pergi.

"Pria ini perlu di beri pelajaran agar dia benar-benar tunduk, bukan hanya sekedar menyerah karena terpaksa." Batin Lynx.

"Kael, anggaplah sedang berlatih. Tunjukkan kemampuanmu kepadaku." Kata Lynx dengan tegas.

Kael membalikkan badan dan memandang Lynx,"Sepertinya memang pria banci di depanku ini perlu di beri pelajaran agar tidak meremehkan orang lain." Batin Kael. Sejak bertemu dengan Lynx, Kael sudah merasa sangat kesal karena dikalahkan oleh anak muda yang terlihat lemah seperti dia. Kulitnya seperti wanita, bahkan terlihat terlalu halus untuk seorang wanita.

"Baiklah! Kamu yang meminta. Jangan salahkan aku. Bersiaplah!" Kata Kael yang langsung memberikan pukulan ke arah perut Lynx. Namun tenaga yang dikeluarkan tidak terlalu besar karena Kael tidak ingin melukai Lynx dan membuat masalah baru.

Lynx terseyum melihat pukulan Kael,"Dia meremehkanku." Batinnya.

Dengan mudah, Lynx menangkap pukulan Kael dan mendorongnya hingga Kael termundur beberapa langkah.

"Lumayan juga. Rasakan yang ini." Kael masih meremehkan Lynx dan menganggap pukulan yang dilakukan sebelumnya terlalu lambat hingga mudah di tangkis. Kali ini Kael memukul dengan lebih kuat dan cepat, namun tetap mengontrol kekuatannya.

Melihat serangan Kael, Lynx menghindar kesamping lalu menendang perut Kael dengan sedikit kekuatan agar Kael terlempar dan mau serius bertarung.

"Inikah kekuatan prajurit bayaran? Terlalu lemah dan suka meremehkan orang lain." Lynx memanasi Kael agar bertarung lebih serius.

"Anak ini ternyata cukup kuat. Aku tidak boleh bermain-main lagi dan mempermalukan diriku sendiri." Batin Kael.  Lalu dia segera menyerang dengan kekuatan serius dan kekuatan penuh.

Setiap pukulan dan tendangan dari Kael, selalu dihindari Lynx dengan mudah sehingga Kael merasa frustasi dan lelah. "Apakah kamu hanya bisa menghindar? Lawan aku jika kamu bisa."

"Baiklah, sekarang giliranku. Bersiaplah!" Kata Lynx.

Lynx kemudian bergerak cepat, menghilang dari pandangan mata Kael sehingga dia kebingungan mencari posisi Lynx. Tiba-tiba saja, Kael merasa tubuhnya terlempar kebelakang dan menabrak batang pohon. Lynx menendang Kael lagi dengan sedikit kekuatan, lalu Lynx berlari ke arah Kael dan melakukan pukulan dengan menambahkan sedikit kekuatan, namun pukulan itu di arahkan ke samping kepala Kael, mengenai batang kayu dan menimbulkan suara benturan keras.

Kael terkejut dan terdiam, lalu dia menoleh ke arah pohon. Terlihat lubang cukup dalam dibatang pohon tersebut, bekas pukulan tangan Lynx. "Luar biasa, jika mengenaiku, kepalaku pasti hancur." Batin Kael.

"Bagaimana Kael, apakah kamu bisa mengakuiku sekarang?" tanya Lynx sambil tersenyum dan mengulurkan tangan untuk berjabatan.

Kael melihat uluran tangan Lynx dan mengulurkan tangannya juga bersalaman. Kael sudah melihat dan merasakan kemampuan Lynx sehingga dia kali ini benar-benar tunduk kepada Lynx.

"Selamat bergabung Kael. Aku berharap kamu dapat membantuku melindungi penduduk di pulau ini." Kata Lynx sambil mengajak Kael menemui yang lainnya.

***

Di sore yang tenang, setelah Kael menemui semua tetua dan diantar kesebuah bangunan untuk beristirahat, terlihat sosok wanita cantik mendatangi Mochi yang sedang duduk di bawah pohon besar di dekat lapangan pelatihan Kampung Surya. Langit biru memayungi mereka, dan suara burung sesekali terdengar dari kejauhan.

“Kakek Mochi,” panggil Leena dengan nada tegas, menarik perhatian lelaki tua itu.

Mochi membuka matanya perlahan, menatap Leena dengan senyum kecil. “Apa yang kau inginkan, Leena? Sepertinya ada sesuatu yang serius.”

“Aku ingin belajar beladiri darimu,” kata Leena tanpa ragu. “Aku ingin bisa menjaga diriku sendiri dan membantu Lynx. Aku tidak ingin terus menjadi beban.”

Mochi memandang Leena dan melihat keseriusan pada wajahnya."Wajar dia menginginkannya. Dia harus bisa ikut berjuang melawan suku Monrest. Aku rasa dia cocok menjadi teman berlatih Lala nantinya agar kemampuan mereka meningkat."

Mochi lalu tertawa kecil. “Ah, semangatmu mengingatkanku pada masa mudaku. Tapi Leena, beladiri yang kuajarkan berbeda dengan beladiri pada umumnya, ini bukan sesuatu yang mudah dipelajari. Dibutuhkan disiplin, ketekunan, dan ketenangan pikiran.”

“Aku siap,” jawab Leena, tekadnya jelas di matanya. “Ajari aku.”

Mochi memandang Leena sejenak, kemudian menghela napas panjang. “Baiklah, tapi dengarkan baik-baik. Sebelum kita mulai latihan, kau harus tahu terlebih dahulu. Dalam kondisi seperti saat ini, dimana pertarungan berarti hidup dan mati, kamu tidak akan belajar mengenai beladiri saja, tetapi juga belajar membangkitkan tenaga dalam yang tertidur di tubuhmu. Kamu harus memahami teori dasarnya terlebih dahulu.”

"Tenaga dalam? Apakah ini seperti di film-film, memiliki kekuatan supranatural. Ataukah menjadi seperti Lynx? "Batin Leena.

Leena menganggukan kepalanya." Terimakasih kakek Mochi, Aku akan berusaha agar bisa menguasainya," Katanya dengan mantap dengan hati merasa gembira.


